SNF (26), tersangka pembunuhan terhadap bocah berusia lima th. inisial AAMS yang merupakan anak kandungnya sendiri masih merintis pemeriksaan di Rumah Sakit (RS) Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Saat diperiksa oleh psikiater, pelaku cenderung emosional, bahkan mengamuk.

Pemeriksaan psikologi dijalankan atas permintaan penyidik Polres Metro Bekasi yang menangani kasus pembunuhan tersebut. Kasus pembunuhan terhadap anak kandung ini terjadi di sebuah perumahan elite kawasan Summarecon, Bekasi terhadap Kamis, 7 Maret 2024 lalu.

Emosi kejiwaan masih labil, marah-marah kepada sbobet seluruh orang, kecenderungan agresivitas menonjol,” kata Karumkit RS Polri Kramatjati, Brigjen Pol Hariyanto pas dihubungi, Selasa (12/3/2024).

Sejak pertama kali diperiksa di RS Polri Kramatjati, SNF sudah tunjukkan kondisi emosi yang tidak stabil. Semua orang di sekitarnya jadi sasaran amarah ibu muda itu.

Sebagai langkah antisipasi, dokter psikiater yang menanganinya memberi tambahan obat penenang. “Oleh psikiater diberikan obat yang tidak mengganggu hasil pemeriksasn visum. Obat-obat yang diberikan supaya tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain,” ujar Hariyanto.

Sementara untuk hasil pemeriksaan kejiwaan pelaku, polisi masih belum dapat membeberkannya. Pihak rumah sakit miliki pas sepanjang dua pekan cocok bersama dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Selama 2 minggu oleh psikiatri dijalankan observasi dan pemeriksaan kejiwaannya yang didapat sepanjang observasi, nanti disatuka sebagai basic pembuatan visum psikiatrikum,” ujar Hariyanto.

Menyiksa Diri di Sel Tahanan
Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, AKBP Muhammad Firdaus menyebut, pelaku pembunuhan balita di Summarecon, Bekasi dibantarkan ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Hal itu dijalankan lantaran pelaku sering menyiksa dirinya sepanjang mendekam di sel tahanan.

“Pelaku dibawa ke IGD RS Bhayangkara Kramat Jati gara-gara tersangka membenturkan kepalanya ke dinding sel ruangan tahanan,” kata Firdaus.

Firdaus menyebut, sepanjang ini SNF ditahan di sel yang terpisah berasal dari para tahanan perempuan lainnya. Hal itu dijalankan sehubungan bersama dengan psikologi pelaku yang terindikasi mengalami skizofrenia berdasarkan pemeriksaan sementara.

Dia kan sendiri di sel tahanan, diasingkan berasal dari tahanan perempuan lainnya. Pada pas dia di dalam sel tahanan dia membenturkan kepalanya berulang kali ke dinding ruangan sel tahanan tersebut, ada memar di kepala,” ujar Firdaus.

“Karena dia mengidap terindikasi tanda-tanda skizofrenia. Takutnya melukai, dia ada delusi halusinasi,” sambungnya.

Keterangan Berubah-ubah
Terkait bersama dengan psikologinya itu juga, keterangan yang disampaikan kepada penyidik pas diinterogasi sering berubah-ubah. Pada pas diperiksa juga tidak ada tetesan air mata penyesalan yang terlihat.

“Jadi begini, tersangka masih kondisinya labil dalam artian kadang-kadang paham dalam memberi tambahan keterangan, tetapi juga kadang-kadang halusinasi. Saat paham kami tanyakan, dia tidak menyesal, tidak menyesal gara-gara sudah bunuh anaknya, gara-gara itu ada bisikan gaib itu,” tegas Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi.

Diberitakan sebelumnya, seorang bocah berusia lima th. berinisial AAMS ditemukan tewas berlumuran darah di rumahnya, Klaster Burgundy Blok RAA 9, kawasan Summarecon, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Kamis (7/3/2024).

Dari hasil olah TKP, terhadap jasad korban ditemukan kira-kira 20 titik luka tusukan senjata tajam di anggota dada. Polisi juga menemukan barang bukti pisau dapur di lokasi kejadian.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *