ekonomi tiongkok

Indonesia mulai merasakan dampak buruk dari semakin kacaunya perekonomian China. Surplus neraca perdagangan sudah semakin tipis, ada risiko pesta windfall atau “durian runtuh” segera berakhir.

Pada Mei lalu neraca perdagangan Indonesia memang masih mencatat surplus, tetapi tidak begitu besar. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) surplus neraca perdagangan pada Mei tercatat sebesar US$ 440 juta. Itu menjadi surplus terendah sepanjang tren surplus selama 37 bulan beruntun.

Tingginya harga batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/cpo) membuat Indonesia menikmati “durian runtuh”. Kini dengan harga batu bara dan CPO yang tidak setinggi tahun lalu, dan perekonomian China yang melambat, pesta “durian runtuh” bisa segera berakhir, neraca perdagangan tidak lagi mencatat surplus.

Data dari Refinitiv menunjukkan harga batu bara acuan Ice Newcastle saat ini berada di kisaran US$ 135/ton, anjlok 66% sepanjang tahun ini. Sementara CPO turun lebih dari 10% ke kisaran 3.700 ringgit per ton.

Sementara itu perekonomian China yang merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia sedang mengalami pelambatan lagi. Data BPS menunjukkan nilai ekspor ke China sepanjang tahun ini hingga Mei tercatat sebesar US$ 25,3 miliar, berkontribusi sebesar 24% dari total ekspor.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai tersebut meningkat 11%. Tetapi, kenaikan tersebut terbilang rendah sebab pada tahun lalu China masih menerapkan kebijakan zero Covid-19.

Guna memacu perekonomian, bank sentral China (People’s Bank of China) PBoC sampai harus memangkas dua suku bunga acuannya pada pekan ini.

PBoC mengejutkan pelaku pasar dengan suku bunga seven-day reverse repo sebesar 10 basis poin menjadi 1,9%.

Sementara pada Kamis (15/6/2023), medium term lending facility (MLF) tenor 1 tahun sebesar 10 basis poin menjadi 2,65%. Pemangkasan ini menjadi yang pertama dalam 10 bulan terakhir.

Dua pelonggaran moneter yang dilakukan dalam dua hari menunjukkan perekonomian China sedang dalam masalah. Data terbaru bahkan menunjukkan tingkat pengangguran muda (usia 16 – 24 tahun) melonjak lagi ke rekor tertinggi sepanjang masa 20,8% pada Mei.

Rekor sebelumnya tercatat sebesar 20,4% pada April. Hal ini menunjukkan pemuda di China kesulitan mendapat pekerjaan. Padahal, kebanyakan dari mereka merupakan lulusan universitas, yang tentunya menyandang gelar akademik, misalnya sarjana.

Data ekonomi dari China terus mengecewakan dalam beberapa hari terakhir. Sektor manufaktur mengalami kontraksi yang dalam, kemudian impor anjlok. Data yang dirilis hari ini menunjukkan pertumbuhan penjualan ritel dan produksi industri yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Sementara itu Rory Green, ekonom di TS Lombard pada bulan lalu menyebut rumah tangga di China mulai menunjukkan tanda-tanda balance sheet recession, yakni keinginan untuk melakukan menabung atau membayar utang, tetapi enggan untuk meminjam dan berbelanja.

Istilah Balance Sheet Recessiondikeluarkan oleh Richard Koo melihat kondisi ekonomi Jepang pada era 1990an. Resesi jenis ini terjadi saat utang swasta maupun rumah tangga sangat tinggi, atau ketika perusahaan maupun rumah tangga fokus untuk menabung guna membayar utang ketimbang melakukan belanja atau investasi. Hal ini membuat perekonomian perlahan-lahan mengalami penurunan.

“Banyak orang di China bertanya kepada saya apakah China akan seperti Jepang 30 tahun yang lalu. Menurut saya China akan mengalami apa yang saya sebut balance sheet recession,” kata Koo dalam acara Street Signs Asia Rabu (7/6/2023).

Jika itu terjadi, ada risiko China akan mengalami dasawarsa yang hilang (lost decade) seperti Jepang 30 tahun lalu, di mana pertumbuhan ekonominya terus melambat hingga mengalami kontraksi.

Ekonomi Republik Rakyat Tiongkok adalah ekonomi berorientasi pasar yang sedang berkembang, yang menggabungkan perencanaan ekonomi melalui kebijakan industri dan rencana strategis lima tahun. Perekonomian Tiongkok terdiri dari perusahaan milik negara (BUMN) dan perusahaan kepemilikan campuran, serta sektor swasta domestik yang besar dan keterbukaan terhadap bisnis asing dalam sistem yang secara resmi digambarkan sebagai ekonomi pasar sosialis. Perusahaan milik negara menyumbang lebih dari 60% kapitalisasi pasar Tiongkok pada 2019 dan menghasilkan 40% dari PDB Tiongkok sebesar US$15,98 triliun (101,36 triliun yuan) pada tahun 2020, dengan bisnis swasta domestik dan asing serta investasi menyumbang 60% sisanya. Hingga akhir 2019, total aset seluruh BUMN Tiongkok, termasuk yang bergerak di sektor keuangan, mencapai US$58,97 triliun pada 2015. Sembilan puluh satu (91) BUMN ini masuk dalam daftar perusahaan Fortune Global 500 tahun 2020. Tiongkok memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia jika diukur dengan PDB nominal, dan yang terbesar di dunia sejak 2014 jika diukur dengan Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (KKB). Tiongkok telah menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua berdasarkan PDB nominal sejak 2010, dengan data mengandalkan nilai tukar pasar yang berfluktuasi.[28] Tiongkok juga baru-baru ini telah melampaui ekonomi Uni Eropa pada tahun 2021. Sebuah perkiraan menyatakan bahwa Tiongkok akan menjadi ekonomi terbesar di dunia dalam PDB nominal pada tahun 2028. Secara historis, Tiongkok adalah salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia selama hampir dua milenium, dari abad ke-1 hingga ke-19.

Baca Juga : https://synapsetechnologiesinc.com/apa-itu-ekonomi-pengertian-menurut-ahli-prinsip-ruang-lingkupnya/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *